Pendidikan Inklusi dan Anak Berkebutuhan Khusus: Regulasi Emosi Anak Penyandang Autisme

Puspitasari, Intan (2019) Pendidikan Inklusi dan Anak Berkebutuhan Khusus: Regulasi Emosi Anak Penyandang Autisme. In: Pendidikan Inklusi dan Anak Berkebutuhan Khusus. Samudra Biru, Yogyakarta, pp. 57-72. ISBN 978-623-7080-83-1

[thumbnail of Book CHapter Pendidikan Inklusi dan Anak Berkebutuhan Khusus.pdf] Text
Book CHapter Pendidikan Inklusi dan Anak Berkebutuhan Khusus.pdf

Download (4MB)
[thumbnail of BUKU Peer Review_ ID_10223.pdf] Text
BUKU Peer Review_ ID_10223.pdf

Download (882kB)

Abstract

Anak penyandang autisme identik dengan anggapan bahwa mereka mempunyai dunia sendiri seolah terlepas dari lingkungan di sekitarnya. Hal ini tidak sepenuhnya salah, mengingat anak penyandang autisme memiliki beberapa keterbatasan dan hambatan perkembangan dibandingkan anak non-autis. Keterbatasan anak penyandang autisme dalam berinteraksi, berkomunikasi, mengungkapkan emosi hingga memahami emosi orang lain menjadi karakterisitik anak penyandang autisme yang seakan menjadi tembok pembatas antara dirinya dan orang lain. Keterbatasan-keterbatasan tersebut tampak pada anak penyandang autisme dari kurangnya fleksibilitas dalam berpikir dan bertingkah laku.
Para pendamping baik orangtua maupun guru anak penyandang autisme seringkali menemui kesulitan ketika mencoba memberi fasilitas yang tepat bagi anak penyandang autisme. Mereka kesulitan dalam mengungkapkan apa yang menjadi keinginannya dan bagaimana memberi respon orang lain di sekitarnya. Dalam hal ini anak penyandang autisme juga mengalami kendala dalam pemrosesan informasinya. Ketidaktepatan anak dalam menafsirkan perilaku dan emosi orang lain dapat memicu perasaan khawatir, takut bahkan ledakan amarah yang menyebabkan anak mengalami tantrum.
Pada umumnya, kondisi tantrum dengan berteriak, memukul, berguling atau mengamuk merupakan ekspresi emosi yang memungkinkan untuk ditunjukkan oleh anak akibat keterbatasan bahasa dalam merepresentasikan perasaan. Pada anak non-autis, orangtua atau pendamping tetap dapat melakukan interaksi non-verbal ketika anak tidak mau mendengarkan arahan atau nasihat. Bahkan orangtua dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk me-regulasi atau mengelola emosi dirinya dengan membiarkan anak sendiri dalam kurun waktu tertentu. Namun, pada anak penyandang autisme tentunya orangtua harus melakukan strategi yang berbeda dibandingkan ketika berinteraksi dengan anak non autis.

Item Type: Book Section
Subjects: L Education > L Education (General)
Divisi / Prodi: Faculty of Teacher Training and Education (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) > S1-Pendidikan Guru PAUD
Depositing User: Intan Puspitasari
Date Deposited: 23 Feb 2023 08:54
Last Modified: 23 Feb 2023 08:54
URI: http://eprints.uad.ac.id/id/eprint/40128

Actions (login required)

View Item View Item